Kawasan pesawahan produktif di Kabupaten Sukoharjo yang terus-menerus digarap dengan pola tanam intensif sering kali mengalami penurunan kualitas tanah. Penggunaan pupuk kimia sintetis secara berlebihan dalam jangka panjang menjadi penyebab utama devaluasi nutrisi dan pemadatan struktur tanah. Akibatnya, tanah kehilangan porositas alami, mikroorganisme menguntungkan mati, dan kapasitas tanah dalam mengikat air serta nutrisi menurun drastis. Kondisi tanah yang "sakit" dan mengeras ini membuat akar tanaman sulit berkembang, sehingga hasil panen padi maupun palawija cenderung stagnan meskipun dosis pupuk kimia terus ditambah.
Untuk memulihkan kesuburan tanah bekas sawah secara alami, petani di Sukoharjo perlu mengandalkan kombinasi bahan pembenah tanah organik. Langkah awal yang efisien adalah menghentikan kebiasaan membakar jerami pascapanen dan mengembalikannya ke dalam tanah sebagai bahan organik alami melalui proses pembenaman atau pengomposan. Selain itu, pemberian kapur pertanian (dolomit) secara teratur sangat penting untuk menetralkan pH tanah yang asam akibat residu kimia. Aplikasi pupuk kandang matang dan humus yang kaya akan asam humat juga terbukti efektif menggemburkan kembali struktur tanah yang padat, sekaligus menghidupkan kembali koloni mikroba tanah yang bermanfaat bagi perakaran.